Cerpen (cerita pendek)
DIA LEBIH MEMILIH NERAKA
“kemana?”
“kemana?”
Aku mau pergi!”
“kemana aku mau!”
“iya, tapi kemana?”
“Apa pedulimu?”
“Aku temanmu, aku harus peduli.”
Setelah tiga tahun, peristiwa itu masih melekat dibenakku. Dasar wanita keras kepala! Ia hanya memikirkan dirinya. Aku?Peduli apa dia tentang aku. Masih pantaskah dia disebut teman. Sedang saat aku membutuhkannya dia pergi, di saat bibir masih dapat tersenyum dan tawa lagi terkembang,dia tak lagi ingin di sampingku untuk berbagi. Tetap saja dia tidak merasakan kebahagiaanku.
“Kamu marah?” Aku masih ingat betul. Ya, mungkin saat itu aku berbuat salah. Setidaknya aku sudah bertanya. Tapi, entahlah mungkin dia terlalu ego untuk ditanya.
“Aku? Marah kenapa?”
“ya….apa saja.”
Dia berkata acuh. Tepat di atas bukit, di belakang perumahan yang disebut bougenvill indah itu. Aku masih mencari celah-celah untuk masuk ka dalam pikirannya. Gadis yang aneh.
Angin mengibas-ngibaskan rambutnya yang hitam, terurai sangat indah. Pohon-pohon yang bergoyang mengikuti arah angin seolah menanti jawaban yang sedari tadi kucari. Namun, langit seketika meneteskan hujan. Di antara tabir langit, di bawah pohon cemara yang rindang, kusandarkan tubuhku di batangnya, rintik-rintik hujan sedikit membasahi rambut dan tubuhku. Sedang gadis itu tetap duduk di sana. Terpaku menatap dunia, entah apa yang ia pandangi, mungki ia menatap mobil yang mondar-mandir di jalanan yang jauh didepan matanya yang terlihat dari bukit atau mungkin ia mengikuti arus sungai yang mengalir ke arah barat dua meter dari tubuh pemilik tatapan yang kosong itu.
Setengah jam ia duduk ditemani air langit. Dan perlahan mulai tenang, cahaya mentari pagi itu terpantul oleh sungai yang beriak. Dia tetap diam, tubuhnya basah kuyup. Kini terbakar matahari. Perlahan kucoba untuk mendekati.
‘kamu marah?” rasanya aku tidak bosan bertanya sampai ia benar-benar menjawab.
“kamu marah?” ia tidak menggubris pertanyaanku. “kenapa anak ini?” hatiku berbisik. Seribu pertanyaan dan teka-teki muncul di benakku.
“kamu marah?” sepertinya ia mulai mendengarkanku.
“apa aku masih pantas untuk marah?”
“Jawaban apa itu?” Dasar! Kenapa dia? Apa yang ada di benaknya? Hingga dia membuatku menjadi gila seperti ini.
“Hei! Kamu kenapa?”
“Apa aku pantas untuk marah? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang teman. Dan bukan seorang sahabat.”
Entahlah, apa ia mengerti arti teman, apa ia mengerti arti sahabat. Apa bedanya?
“sebentar lagi kau akan menikah. Pasti kau bahagia. Kenapa kau masih disini? sedangkan aku yang ingin pergi kau tanya-tanya. Apa penting aku di matamu?”
Astaga! Tidak mungkin! Benar dugaanku. Dia cemburu. Tidak salah lagi, dia pasti cemburu denganku. Tapi mengapa? Dia tidak pernah memperhatikanku. Dia tidak pernah memberi setitik pun harapan atau setidaknya sedikit isyarat pun, pasti langsung aku tanggapi. Dia hanya bertingkah layaknya seorang teman. Tidak lebih dari itu!
“lalu kenapa kau masih disini? Ayo kejarlah impianmu! Kejarlah kebahagiaanmu!”
Aku tidak tahan lagi. Dia terlalu indah untuk menangis di hadapanku.bahkan untuk bersedih pun dia tidak pantas. Air mata itu sungguh beruntung bisa mengalir diwajah secantik itu. Wanita berparas cantik yang kusebut-sebut sebagai teman. Hanya teman.
Ia memang wanita penuh rahasia. Ia seharusnya tau kalau aku tidak suka basa-basi. Suka bilang suka, cinta bilang cinta. Maka kita segera menikah. Mungkin ketertutupannyalah yang membuat ia menderita. Dan keterbukaankulah yang membuat aku tersiksa. Seharusnya dia cukup dewasa untuk menyatakan cinta. Walau aku hanya menganggapnya sebagai teman, kalau pun dia yang meminta, aku tidak akan pernah menolak. Toh, ia gadis yang cantik, baik dan feminim walau sedikit tertutup. Justru ketertutupannya itulahyang sebenarnya membuatku tertarik, walau bukan tertarik karena cinta, hanya aku saja sedikit mengaguminya. Sekedar mengagumi, tidak untuk mencintai.
“kamu cemburu?” mau tidak mau, aku memberanikan bibir ini untuk bertanya.
“Cemburu? Heh?” nadanya semakin menandakan kekerasan kepalanya.
Memang dasar gadis keras kepala, egois. Mengapa ia tidak mengaku saja. Atau mungkin sedikit berharap supaya aku membatalkan rencana akad nikah minggu depan. Ya, walau itu mungkin, aku mencintai calon istriku. Wanita cantik yang kukenal di galeri lukisan sebuah sekolah negri di daerah Siak. Ia penggemar lukisan abstrak sama sepertiku, sejak itu aku jatuh cinta padanya.
Pernah suatu hari saat akumemintanya untuk menerimaku menjadi pacarnya, namun ia menolak hanya saja ia menjawab ”aku tidak mau menjadi paacarmu, tapi kalau kau memintaku untuk menjadi istrimu aku akan bersedia” wajar saja ia begitu, jilbab yang menutupi lekuk tubuhnya yang panjang hingga kepinggangnya itu, menandakan ciri wanita islam yang begitu aku kagumi. Dan aku tetap akan menikah dengannya walau gadis di depanku ini berlinang air mata, bermohon untuk mencintainya. Tapi aku memang berharap seperti itu. Ternyata orang yang slama ini aku kagumi, mencintaiku. Justru sekarang aku yang merasa dikagumi.
“kamu pasti cemburu?”
“Apa? Heh, dengar ya! Entah kau mau menikah dengan bidadari, mau menikah dengan nenek, mau menikah dengan gadis 16 tahun. Aku tidak akan pernah peduli” begitulah. Dasar egois, dasar keras kepala. Pasti dia tetap tidak mau mengakuinya. Aku yakin dia mencintaiku, aku yakin dia cemburu, dan aku yakin dia berharap gadis yang akan duduk di pelaminan bukan gadis calon istriku namun dia. Tapi dia terlalu keras kepala untuk mengakui perasaannya.
“ingat satu hal! Walau pun kau memberiku surga, hanya untuk berharap agar aku mencintaimu. Maka aku akan memilih neraka”.
Comments
Post a Comment
terimakasih telah menjadi pengunjung blog desri