Cara cepat menyelesaikan soal persilangan
[copas geng]
Persilangan??? mungkin sebagian dari siswa banyak yang menyukai pelajaran ini, tetapi sebagian lagi banyak yang ga ngeh banget dengan materi ini, yah satu-satunya faktor buat ga suka itu karna ga ngerti kan? berdasarkan data yang saya dapat, disini saya mau berbagi sama temen-temen semua
Pertama, kita ambil contoh persilangan dihibrid (dua sifat beda) karena inilah yang paling sering dibuat soal. Kalau monohibrid terlalu gampang, kalau trihibrid kebanyaken. Gurunya sendiri jadi males ngoreksi .
Dasar cara ini sebenarnya adalah persilangan monohibrid. Jadi langkah pertama pahami betul dasar persilangan monohibrid ini. Coba perhatikan contoh kemungkinan variasi persilangan monohibrid berikut.
Variasi persilangan monohibrid
|
Hasil persilangan
|
AA x AA
AA x Aa
AA x aa
Aa x Aa
Aa x aa
aa x aa
|
AA
AA dan Aa
Aa
AA, 2Aa, dan aa
Aa dan aa
aa
|
Kalau sudah paham dasar tersebut sekarang perhatikan contoh berikut. Gunakan contoh persilangan dihibrid. Misalnya kita silangkan antara ercis berbiji bulat warna hitam dengan ercis kisut warna hijau. Kita sepakat saja fenotif bulat hitam bersifat dominan. Kalau dirinci kira-kira begini:
Perhatikan bahwa untuk persilangan pada P2 kita tidak perlu mencari gametnya. Kita langsung menyilangkan antar alel berdasar tabel di atas. Cukup disilangkan antara alel Bb dengan Bb dan Hh dengan Hh. Hasilnya langsung dipasangkan satu persatu dan muncullah keturunan pada F2 langsung muncul macam genotifnya berdasar jumlahnya masing-masing. Kita tinggal mengelompokkan fenotifnya, dan hasilnya sama persis dengan teknik papa catur.
Cara ini sangat praktis dan cepat. Karena itu sangat bermanfaat untuk mengerjakan soal pilihan ganda dengan hasil jawaban yang lebih akurat. Saya tidak merekomendasikan cara ini untuk menjawab ulangan harian atau semester bertipe essay. Mengapa? Karena kalau guru kamu kolot dan tidak open mind, nilai kamu bisa dikurangi karena tidak menggunakan cara yang diajarkannya . Beberapa kali saya mengalami hal itu. Jadi hati-hati saja.
Sebenarnya ada satu lagi cara cepat yang lain. Dengan cara ini kita akan menemukan hasil persilangan pada F2 cukup hanya berdasar gametnya saja. Saya sengaja tunjukkan cara ini sebelum membahas bab Penyimpangan Semu Hukum Mendel. Dengan cara yang saya akan tunjukkan ini pembahasan bab tersebut bisa lebih cepat dan praktis.
Mau tahu caranya? Ok langsung saja.
Cara cepat menyelesaikan soal persilangan berdasar gametnya saja
Saya mengambil contoh persilangan dihibrid. Saya menyilangkan kapri berbiji bulat kulit hitam dengan kapri kisut berkulit hijau. Kita sepakat saja sebagai contoh bahwa bulat hitam dominan. Pada keturunan pertama (F1) diperoleh keturunan bulat hitam (BbHh). Jika persilangan dilanjutkan untuk mencari F2 maka kita silangkan antara F1 dengan sesamanya seperti pada bagan di bawah.
Jika kita menggunakan teknik papan catur maka kedua gamet pada P2 di atas harus dicari kemudian dipasangkan satu per satu. Itu sangat lama dan beresiko salah. Tahu sendiri kan?
Sekarang saya tunjukkan cara yang lebih cepat. Tapi harus diingat bahwa cara yang saya tunjukkan ini hanya berlaku jika kedua parental memiliki genotif yang sama persis. Seperti contoh bagan di atas kedua parentalnya pada P2 adalah BbHh dan BbHh. Jika kedua parental tidak sama genotifnya,
Caranya begini:
- Tuliskan kemungkinan gamet yang dibentuk oleh salah satu induk P2. Ingat bahwa kedua induknya sama, jadi cukup tuliskan salah satu. Ingat juga kan bahwa rumus mencari gamet adalah 2n dimana n = jumlah alel yang heterozigot.
- Berdasar gamet yang telah ditulis, kita akan tuliskan langsung fenotifnya berdasarkan sifat fenotif yang dikendalikan oleh gen yang bersangkutan.
- Berikutnya tuliskan masing-masing jumlah total keturunan pada tiap jenis fenotifnya
- Selesai
Untuk lebih jelas perhatikan bagan persilangan berikut ini.
Perhatikan pada F2, di situ telah kita tulis kemungkinan gametnya. Dari gamet tersebut kita tulis fenotifnya berdasar sifat fenotif yang dikendalikan oleh gen yang bersangkutan. Misalnya gen B = bulat, H = hitam, b = kisut, dan h = hijau. Jadi kalau gametnya BH maka fenotifnya bulat hitam, dan seterusnya.
Lantas darimana jumlah angka itu diperoleh? Jumlah itu diperoleh dari hasil kali nilai masing-masing gen. Kalau gennya dominan nilainya 3, kalau gennya resesif nilainya 1. Jadi pada gamet BH = 3 x 3 = 9 dan seterusnya. Darimana nilai itu diperoleh? Rasio fenotif monohibrid adalah 3 : 1. Angka 3 itu muncul sebagai manifestasi gen dominan, sedang angka 1 muncul sebagai manifestasi gen resesif. Angka itulah yang kita comot untuk diterapkan pada cara di atas.
Mungkin saja kamu hafal bahwa rasio fenotif pada F2 adalah 9:3:3:1 dan kamu bisa langsung menuliskannya. Tetapi kombinasi gametnya harus urut seperti pada bagan di atas. Jika tidak urut maka rasio fenotifnya bakal salah. Jadi ingat betul nilai masing-masing gen.
Gimana? Lebih cepat kan? Nah, kamu telah belajar cara cepat menyelesaikan soal persilangan berdasar gametnya saja.
Seperti telah saya bilang dulu, hati-hati menggunakan cara ini untuk menjawab ulangan di sekolah, atau nilai kamu bakal dikurangi kalau guru kamu gak suka dengan cara ini
Pada artikel berikutnya kita akan terapkan cara di atas untuk membahas Penyimpangan Semu Hukum Mendel.
Cara mencari macam genotif dengan cepat
Misalnya disilangkan:
P : Aa Bb Cc Dd Ee x aa bb Cc DD ee
Pertanyaannya, berapa macam genotif yang mungkin terbentuk?
Jika kita menyilangkannya dengan mencari gametnya satu per satu tentu makan banyak waktu.
Langkah cepatnya begini: lihatlah induk pertama, gamet yang dibentuk ada 32, sedangkan induk satunya hanya membentuk 2 gamet. Ingat bahwa mencari gamet menggunakan rumus 2n, dimana n adalah jumlah alel yang heterozigot. Jadi total keturunan adalah 32 x 2 = 64. Lah, terus jumlah genotifnya berapa? Ya 64, karena jumlah genotif = jumlah keturunan.
Untuk mencari macam genotifnya dengan cepat perhatikan skema di bawah ini.
Lihat baik-baik ya! Jika disilangkan antara alel Aa dengan aa, maka keturunannya adalah Aa dan aa (ingat prinsip dasar persilangan monohibrid). Perhatikan bahwa macam genotifnya ada dua yaitu Aa dan aa. Sekarang lihat persilangan alel Cc dengan Cc, keturunannya adalah CC, 2Cc, dan cc. Perhatikan bahwa ada 3 macam genotif dengan jumlah genotif 4.
Nah jika semua alel disilangkan, hasilnya tampak seperti di atas. Lihatlah angka yang menunjukkan macam genotif hasil persilangan antar alel tersebut. Untuk memperoleh macam genotif yang terbentuk, tinggal kalikan saja angka-angka tersebut. Jadi yang kita peroleh adalah 2 x 2 x 3 x 2 x 2 = 48.
Jadi, simpulannya adalah: jumlah genotif ada 64, dan macam genotifnya ada 48. Mengapa begitu? Soalnya ada genotif yang sama.
Pola-pola Hereditas
Artikel ini telah dibaca 1,270 kali
Pola-pola hereditas mempelajari berbagai macam cara pewarisan sifat, yang meliputi:
- Pautan (linkage)
- Pindahsilang (crossing over)
- Pautan sex (sex linkage)
- Gagal berpisah (non disjunction)
- Determinasi sex
- Gen lethal
1. Pautan
Pautan/Tautan (linkage) adalah suatu keadaan dimana terdapat banyak gen dalam satu kromosom. Pengertian ini biasanya mengacu pada kromosom tubuh (autosom). Akibatnya bila kromosom memisah dari kromosom homolognya, gen-gen yang berpautan tersebut selalu bersama.
Semisal suatu genotif AaBb mengalami pautan antar gen dominan dan antar gen resesif, maka A dan B terdapat dalam satu kromosom, sedangkan a dan b terdapat pada kromosom homolognya. Bila terjadi pembelahan meiosis maka gamet yang terbentuk ada dua macam, yaitu AB dan ab.
Ciri Pautan:
- semisal pada AaBb, gamet hanya 2 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1
- semisal pada AaBb, gamet hanya 2 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1
2. Pindah Silang (crossing over)
Pindah silang (crossing over) merupakan peristiwa pertukaran gen karena kromosom homolog saling melilit saat meiosis. Misalkan suatu genotif AaBb mengalami pindah silang saat pembelahan meiosis akan diperoleh gamet sebanyak empat macam, yaitu AB, ab, Ab, dan aB.
- Dua yang pertama (homogamet) disebut kombinasi parental (KP) yang merupakan hasil peristiwa pautan, dan
- dua yang terakhir (heterogamet) disebut kombinasi baru (KB) atau rekombinan (RK) yang merupakan hasil peristiwa pindahsilang.
Prosentase terbentuknya kombinasi baru saat terjadi pindah silang disebut Nilai Pindah Silang (NPS) yang dapat dihitung dengan rumus berikut:
Ciri Pindah silang:
- semisal pada AaBb, gamet 4 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1 : 1 : 1
- semisal pada AaBb, gamet 4 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1 : 1 : 1
3. Pautan Sex
Pautan sex (sex linkage) merupakan suatu keadaan dimana terdapat banyak gen tertentu yang selalu terdapat pada kromosom sex. Adanya pautan sex menyebabkan suatu sifat muncul hanya pada jenis kelamin tertentu. Ada dua jenis pautan sex, yaitu pautan X dan pautan Y.
Contoh: persilangan antara lalat Drosophilla melanogaster bermata merah dan putih.
P : jantan mata putih X betina mata merah
XmY XMXM
XmY XMXM
F1 : XMY : jantan mata merah
XMXm : betina mata merah
XMXm : betina mata merah
P2 : XMY x XMXm
FZ : XMY : jantan mata merah
XmY : jantan mata putih
XMXM : betina mata merah
XMXm : betina mata merah
XmY : jantan mata putih
XMXM : betina mata merah
XMXm : betina mata merah
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa gen yang menyebabkan warna mata pada lalat terdapat pada kromosom X. Mata merah disebabkan gen dominan M, dan mata putih disebabkan gen resesif m. Hasil persilangan pada F, induk jantan yang bermata putih mewariskan gen m pada anak betina, sedangkan induk betina yang bermata merah mewariskan gen M pada anak jantan.
Ingat
Pada anak jantan, X berasal dari induk betina
Pada anak betina, X berasal dari kedua induk
Inilah yang disebut konsep pewarisan sifat menyilang (criss cross inheritance)
Pada anak jantan, X berasal dari induk betina
Pada anak betina, X berasal dari kedua induk
Inilah yang disebut konsep pewarisan sifat menyilang (criss cross inheritance)
4. Gagal Berpisah (non disjunction)
Gagal berpisah (non disjunction) merupakan kegagalan kromosom homolog untuk memisahkan diri saat pembelahan meiosis. Akibatnya terdapat gamet yang lebih atau kurang jumlah kromosomnya.
Contohnya persilangan antara Drosophilla melanogaster dimana lalat betina mengalami gagal berpisah. Lalat betina yang mengalami gagal berpisah membentuk tiga macam kemungkinan gamet yaitu X, XX, dan 0. Bila lalat jantan yang mengalami gagal berpisah kemungkinan gametnya adalah X, Y, XX, YY, dan 0.
P : XY x XX (gagal berpisah)
G : X X
Y XX
0
Y XX
0
F : XX : betina normal
XY : jantan normal
XXX : betina super (biasanya mati)
XXY : betina (fertil)
XO : jantan (steril)
YO : jantan (lethal)
XY : jantan normal
XXX : betina super (biasanya mati)
XXY : betina (fertil)
XO : jantan (steril)
YO : jantan (lethal)
Gamet hasil gagal berpisah pada:
- betina : X, XX, 0
- jantan : X, Y, XX, YY, 0
- betina : X, XX, 0
- jantan : X, Y, XX, YY, 0
5. Determinasi sex
Determinasi sex adalah cara penentuan jenis kelamin pada hewan dan manusia yang dilambangkan dengan huruf tertentu.
Khusus pada Drossophila, penentuan jenis kelamin didasarkan pada Index Kelamin yang merupakan rasio antara jumlah kromosom X dengan jumlah pasangan autosom. Bila rasionya lebih besar atau sama dengan setengah, jenis kelaminnya jantan. Bila lebih besar atau sama dengan satu jenis kelaminnya betina. Dan bila lebih besar dari setengah dan lebih kecil dari satu lalat tersebut merupakan lalat intersex.
Contoh: AAXX IK = 2X/2A = 1 lalat betina
AAXY IK = X/2A = 0,5 lalat jantan
AAXXX IK = 3X/2A = 1,5 lalat betina
AAXXY IK = 2X/2A = 1 lalat betina
AAXO IK = X/2A = 0,5 lalat jantan
AAAXX IK = 2X/3A = 0,6 lalat intersex
Pada makhluk hidup lain penentuan jenis kelaminnya seperti pada tabel berikut:
AAXY IK = X/2A = 0,5 lalat jantan
AAXXX IK = 3X/2A = 1,5 lalat betina
AAXXY IK = 2X/2A = 1 lalat betina
AAXO IK = X/2A = 0,5 lalat jantan
AAAXX IK = 2X/3A = 0,6 lalat intersex
Pada makhluk hidup lain penentuan jenis kelaminnya seperti pada tabel berikut:
6. Gen Lethal
Gen lethal merupakan gen yang menyebabkan kematian individu yang memilikinya bila dalam keadaan homozigot. Ada dua jenis gen lethal, yaitu lethal dominan dan lethal resesif.
Lethal dominan menyebabkan kematian dalam keadaan homozigot dominan.
Contoh: persilangan antara tikus kuning dengan sesamanya
p : tikus kuning x tikus kuning
Kk Kk
Kk Kk
F : KK : tikus kuning (lethal)
2Kk : tikus kuning
kk : normal
2Kk : tikus kuning
kk : normal
Rasio fenotif yang hidup antara tikus kuning : normal = 2 : 1 karena tikus kuning homozigot dominan selalu lethal.
Lethal resesif menyebabkan kematian dalam keadaan homozigot resesif.
Contoh: persilangan antara jagung berdaun hijau dengan sesamanya
p : jagung berdaun hijau x jagung berdaun hijau
Hh Hh
Hh Hh
F : HH : berdaun hijau
2Hh : berdaun hijau
hh : berdaun pucat (albino) – lethal
2Hh : berdaun hijau
hh : berdaun pucat (albino) – lethal
Dari pesilangan di atas hanya tiga yang kemungkinannya dapat hidup yaitu yang bergenotif HH dan Hh. Sedangkan yang bergenotif hh mati karena tidak dapat membentuk klorofil.
diambil dari sumber lain
ngebantuu bangeet mksh eaaa :)
ReplyDeletesama sama ya
ReplyDeleteTrims cara cepatnya
ReplyDeleteSemoga bermanfaat
ReplyDelete